PENGARUH PERGAULAN PELAJAR SMA
TERHADAP PRESTASI AKADEMIKNYA
DI KOTA PRABUMULIH
Diajukan Guna Mengikuti Lomba Penelitian Ilmiah Remaja yang Diselenggarakan Oleh Departemen Pendidikan Nasional
OLEH :
Andwi Putri Lika (144)
Harri Dwi Saputra (161)
Vientika Anggraini (190)
Genta Ramadhan (158)
PEMERINTAH KOTA PRABUMULIH
DINAS PENDIDIKAN NASIONAL
SMA NEGERI 3 PRABUMULIH
2006
EVALUASI PELAKSANAAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN TERHADAP PESERTA DIDIK BERMASALAH
DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 5 PRABUMULIH
OLEH :
Andwi Putri Lika (144)
Harri Dwi Saputra (161)
Vientika Anggraini (190)
Genta Ramadhan (158)
PEMERINTAH KOTA PRABUMULIH
DINAS PENDIDIKAN NASIONAL
SMA NEGERI 3 PRABUMULIH
2005
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 1993. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Clemes, Harris dan Reynold Bean. 2001. Mengajarkan Disiplin Kepada Anak: Petunjuk Praktis Bagi Orang Tua dan Guru. Jakarta: Mitra Utama.
Dalyono, M. 2001. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nursisto. 2002. Peningkatan Prestasi Sekolah Menengah: AcuanSiswa, Pendidikan dan Orang Tua. Jakarta: Insan Cendikia.
Prayitno dan Erman Amti. 1999. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.
Republik Indonesia. 2003. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: CV Tamita Utama.
Riyatno, Theo. 2002. Pembelajaran Sebagai Proses Bimbingan Pribadi. Jakrta: Grasindo.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan proposal ini yang berjudul "EVALUASI PELAKSANAAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN TERHADAP PESERTA DIDIK BERMASALAH DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 5 PRABUMULIH."
Kami sebagai penulis mengucapkan terima kasih kepada:
- Bapak Kepala SMA Negeri 3 Prabumulih, Karwono, S.Pd.
- Muhammad Aliyenah, S.Pd. selaku guru pembimbing mata pelajaran Sosiologi yang telah rela meluangkan waktunya untuk membantu dalam pembuatan proposal ini sampai selesai.
- Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang telah memberikan bantuan baik moril dan materil.
Selain itu kami menyadari adanya keterbatasan dan kekurangan dalam penyusunan penelitian ini, sehingga kami mohon kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat konstruktif yang akan kami gunakan sebagai masukan demi penyempurnaan dalam penyusunan penelitian selanjutnya.
Akhirnya kami mengharapkan agar penelitian ini dapat berguna bagi kita semua, khususnya para pelajar SMA Negeri 3 Prabumulih. Terima Kasih
Prabumulih, 27 Agustus 2005
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL …………………………………………………………………i
KATA PENGANTAR……………………………………………………………….ii
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………iii
BAB 1: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang…………………………………………………………....1
B. Identifikasi Masalah……………………………………………………....3
C. Batasan Masalah………………………………………………………….4
D. Rumusan Masalah………………………………………………………...4
E. Tujuan Penelitian……………………………………………………….…4
F. Manfaat Penelitian………………………………………………………...5
G. Batasan Pengertian Judul………………………………………………....5
BAB II: DESKRIPSI TEORITIK DAN KERANGKA BERPIKIR
A. Deskripsi Teoritik………………………………………………………...6
- Bimbingan dan Penyuluhan………………………………………...6
- Pengertian Bimbingan………………………………………...........6
- Pengertian Penyuluhan……………………………………..……...7
- Peranan Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah……………..…....7
- Peranan dan Tanggung Jawab Guru Bimbingan dan
- Penyuluhan…………………………………..…8
2. Peserta Didik Bermasalah…………………………………………..9
- Pengertian Peserta Didik Bermasalah……………………...…….....9
- Sebab-Sebab Peserta Didik Bermasalah………………………......10
3. Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah…………..…10
B. Kerangka Berpikir………………………………………………….…..13
BAB III: METODE PENELITIAN
A. Variabel Penelitian………………………………………………………15
B. Definisi Operasional Variabel…………………………………………..15
C. Populasi dan Sampel…………………………………………………….15
- Populasi…………………………………………………………...15
- Sampel…………………………………………………………….16
D. Teknik Pengumpulan Data……………………………………………..17
- Angket atau Kuesioner…………………………………………....17
- Dokumentasi……………………………………………………....17
- Wawancara atau Interview………………………………………..17
E. Teknik Analisis Data…………………………………………………...18
BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data …………………………………………………………19
B. Hasil Penelitian dan Pembahasan ………………………………………19
BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan …………………………………………………………….24
B. Saran ……………………………………………………………………25
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………26
LAMPIRAN-LAMPIRAN…………………………………………………………..27
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap anak memiliki perilaku yang berbeda. Walaupun beberapa anak dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sama, keadaan ini tidak menjamin bahwa mereka akan berperilaku sama pula. Yang membedakan prilaku seseorang itu berbeda dapat dilihat dari pengalamannya.
Menurut Clemes dan Reynald Bean (2001:viii), pengalaman seseorang merupakan dasar pembentukan kepribadian. Dasar pemikiran ini dimulai sejak anak anak lahir ke dunia. Anak yang dilahirkan pada mulanya tidak mengetahui apa-apa. Mereka tidak tahu bagaimana cara bertindak yang sesuai dengan keinginan orang tuanya. Dalam proses perkembangannya anak perlu belajar, baik belajar pada lingkungan informal (keluarga), formal (sekolah) maupun nonformal (luar sekolah).
Seiring dengan daya perkembangan jiwa seseorang, semakin tinggi ia mengenyam pendidikan semakin banyak kuantitas tantangan yang dihadapinya. Menurut Riyanto (2002:5), untuk menghadapi tantangan itu sangat diperlukan cara yang tepat untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. Dalam hal ini pribadi peserta didik harus dikembangkan sehingga mereka bisa belajar hidup yang lebih mantap dalam mengatasi segala tantangan yang dihadapinya.
Seseorang tak mungkin terhindar dari suatu masalah. Termasuk pula permasalahan yang sering ditemukan pada tiap-tiap sekolah. Walaupun seorang pendidik itu sudah baik mengajarnya, tetapi masih juga ditemukan permasalahan yang sering diperbuat oleh peserta didiknya.
Menurut Prayitno dan Erman Amti (1999:29), munculnya permasalahan pada diri peserta didik bersumber pada permasalahan-permasalahan di luar lingkungan. Oleh karena itu, sebagai seorang pendidik harus bertindak arif dalam menyikapi permasalahan peserta didik. Riyanti (2002:22) berpendapat seorang pendidik bukan hanya mampu mengkomunikasikan fakta, gagasan, dan pengetahuan saja, melainkan membantu menumbuhkembangkan kepribadian seseorang. Pendapat di atas diperkuat pula oleh teori Humanistik yang menitikberatkan pendidikan bertumpu pada peserta didik. Artinya peserta didik perlu mendapat perhatian dalam membangun sistem pendidikan. Apabila peserta didik telah menunjukan gejala-gejala yang kurang baik, berarti mereka sudah tidak menunjukan niat belajar yang sesungguhnya. Kalau gejala ini dibiarkan terus akan menjadi masalah di dalam mencapai keberhasilan belajarnya.
Hampir di setiap sekolah tersedia seorang guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP) atau Bimbingan Konseling (BK). Peran guru BP/BK memberikan pelayanan Bimbingan dan Penyuluhan kepada komponen pendidikan, terutama sekali terhadap peserta didik. Prayitno dan Erman Amti (1999:29) mengungkapkan bahwa pelayanan yang diberikan kepada peserta didik mencakup secara keseluruhan perkembangannya yang meliputi keempat dimensi kemanusiaan, yaitu dimensi individualitas, sosialitas, moralitas, dan religius demi mewujudkan manusia seutuhnya. Hal ini sesuai dengan konsep pendidikan menurut Ketentuan Umum UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 angka 1 yang pada intinya bahwa dalam proses pendidikan dikembangkan proses pembelajaran yang aktif sehingga peserta didik mampu mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang berguna baik untuk dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Republik Indonesia, 2003:4). Atas dasar itulah kehadiran guru BP/BK sangat diperlukan untuk membantu kepribadian peserta didik yang seutuhnya dan menyeluruh sesuai dengan konsep pendidikan diatas. Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah diharuskan mampu menumbuhkan kesadaran peserta didik sehingga mereka mampu mengatasi masalah-masalahnya sendiri. Kemudian, peserta didik memperoleh banyak pilihan untuk bersikap dan bertindak.
Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 5 Prabumulih terletak di pusat kota. Jumlah peserta didik pada tahun pelajaran 2004/2005 sebanyak 406 orang. Sebagian besar peserta didik berasal dari berbagai kecamatan dan kelurahan yang terdapat di sekitarnya. Bila ditinjau dari segi ekonomi keluarga dan lingkungan, keadaan peserta didiknya sungguh beragam dan terdiri atas berbagai tindakan, baik berasal dari tingkat bawah, menengah, maupun atas. Keberagaman atau keheterogenan ini dapat menimbulkan berbagai jenis permasalahan. Di samping itu, permasalahan juga muncul akibat dari pengaruh-pengaruh lingkungan luar dan pergaulan dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan data pendahuluan yang penulis dapatkan melalui guru BK/BP di lapangan bahwa sekitar 25% peserta didik bermasalah setiap tahunnya. Permasalahan yang dihadapi peserta didik bermacam-macam, seperti sering membolos, malas belajar, motivasi belajar rendah, prestasi belajar rendah (underachiever), tidak membuat pekerjaan rumah (PR), terlambat masuk sekolah, berambut panjang, tidak memakai atribut sekolah, minggat, dan jenis pelanggaran disiplin lainnya.
Berdasarkan uraian di atas, penulis terdorang untuk melakukan penelitian mengenai bagaimana pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di SMP Negeri 5 Prabumulih. Untuk itu pada penelitian ini diberi judul: EVALUASI PELAKSANAAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN TERHADAP PESERTA DIDIK BERMASALAH DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 5 PRABUMULIH.
B. Identifikasi Masalah
- Belum diketahui faktor penghambat dan faktor pendukung dalam pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di SMP Negeri 5 Prabumulih.
- Belum diketahui bagaimana pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan (Konseling) terhadap peserta didik bermasalah di Sekolah Menengah Pertama Negeri 5 Prabumulih.
C. Batasan Masalah
Dalam pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan terhadap peserta didik bermasalahan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 5 Prabumulih belum tentu akan berjalan/terlaksana dengan mulus. Hal ini diakibatkan karena banyaknya faktor-faktor dalam pelaksanaannya. Mengingat begitu banyak faktor yang mempengaruhi pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan terhadap peserta didik bemasalahan, maka pembahasan yang akan dikaji terbatas pada faktor penghambat dan faktor pendukung yang dapat mempengaruhi pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan terhadap peserta didik bermasalahan di SMP N 5 Prabumulih.
Penelitian ini tidak akan melibatkan seluruh warga SMP N 5 Prabumulih melainkan hanya melibatkan peserta didik yang bermasalahan dan guru BK di Sekolah Menengah Pertama Negeri 5 Prabumulih.
D. Rumusan Masalah
- Faktor-faktor apa saja yang dapat menjadi faktor penghambat dan faktor pendukung dalam pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di SMP Negeri 5 Prabumulih?
- Bagaimana pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan terhadap peserta didik bermasalah di Sekolah Menengah Pertama Negeri 5 Prabumulih?
E. Tujuan Penelitian
- Mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat menjadi faktor penghambat dan faktor pendukung dalam pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di SMP Negeri 5 Prabumulih.
- Mengetahui bagaimana pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan (Konseling) terhadap peserta didik bermasalah di Sekolah Menengah Pertama Negeri 5 Prabumulih.
F. Manfaat Penelitian
- Sebagai pengembangan pengetahuan bagi peneliti antara teori yang didapat dengan keadaan di lapangan.
- Sebagai masukan bagi sekolah yang diteliti dalam hal Bimbingan dan Penyuluhan terhadap peserta didik bermasalahan.
- Sebagai masukan bagi guru Bimbingan dan Penyuluhan untuk menjalankan tugas-tugas dan fungsinya.
- Bahan kajian dan analisis bagi penelitian selanjutnya.
G. Batasan Pengertian Judul
- Evaluasi adalah penentuan atau penilaian terhadap suatu masalah.
- Bimbingan adalah bagian dari proses pendidikan yang teratur dan sistematik guna menentukan dan mengarahkan hidupnya sendiri, yang pada akhirnya ia dapat memperoleh pengalaman-pengalaman yang dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi masyarakat (Prayitno dan Erman Amti, 1999:94).
- Penyuluhan adalah suatu proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling dari orang yang ahli kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah guna mengatasi permasalahan yang sedang dihadapi (Prayitno dan Erman Amti, 1999:106).
- Peserta didik bermasalahan adalah peserta didik yang menunjukan gejala –gejala penyimpangan dari perilaku yang lazim dilakukan oleh teman-teman sebayanya (Dalyono, 2001:260).
BAB II
DESKRIPSI TEORITIK DAN KERANGKA BERPIKIR
A. Deskripsi Teoritik
1. Bimbingan dan Penyuluhan
1.1 Pengertian Bimbingan
Di bawah ini penulis kutip pendapat beberapa para ahli tentang pengertian bimbingan. Menurut Lefever dalam Mc Donald yang terdapat dalam Prayitno dan Erman Amti (1999:94),
Bimbingan adalah bagian dari proses pendidikan yang teratur dan sistematik guna menentukan dan mengarahkan hidupnya sendiri, yang pada akhirnya ia dapat memperoleh pengalaman-pengalaman yang dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi masyarakat.
Crow & Crow dalam Prayitno dan Erman Amti (1999:94) juga berpendapat
Bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang, laki-laki atau perempuan, yang memiliki kepribadian yang memadai dan terlatih dengan baik kepada individu-individu setiap usia untuk membantunya mengatur kegiatan hidupnya sendiri, membuat keputusan sendiri dan menanggung bebannya sendiri.
Berdasarkan pendapat para ahli tentang pengertian bimbingan di atas, penulis simpulkan bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan kepada orang lain, baik anak-anak, remaja, maupun orang dewasa supaya mampu mengembangkan dirinya sendiri (mandiri) dan dapat memanfaatkan kekuatan yang ada dalam dirinya sendiri dan lingkungannya, kemudian dapat berkembang berdasarkan norma-norma yang berlaku. Bila dilihat dari proses bimbingan itu sendiri, terdapat ciri-cirinya, antara lain:
- Bimbingan suatu perbuatan yang disadari atau disengaja.
- Diberikan oleh orang yang ahli kepada orang yang membutuhkannya.
- Ada permasalahan yang perlu ditangani.
- Mengandung kemandirian dalam mengatasi permasalahannya.
- Dilakukan secara sistematis.
1.2 Pengertian Penyuluhan
Menurut Prayitno dan Erman Amti (1999:106), penyuluhan hampir sama maknanya dengan konseling, yaitu suatu proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling dari orang yang ahli kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah guna mengatasi permasalahan yang sedang dihadapi. Pada bagian yang lain Prayitno juga mengungkapkan pengertian penyuluhan yang berarti adalah "pertemuan empat mata antara klien dan penyuluh yang sedang menempuh usaha, dengan cara yang laras, unik, dan manusiawi, yang bersifat keahlian, berdasarkan norma yang berlaku."
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa arti penyuluhan sama maksudnya dengan konseling yaitu suatu tindakan dari seseorang (guru/konselor) yang berbentuk pelayanan kepada orang lain (peserta didik/klain) untuk mengatasi permasalahannya.
1.3 Peranan Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah
Masih ada orang yang beranggapan bahwa peranan bimbingan dan penyuluhan (konselor) di sekolah sebagai polisi sekolah yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib, disiplin, dan keamanan sekolah (Prayitno Dan Erman Amti, 1999:122). Anggapan ini cukup wajar sebab jika peserta didik dipanggil menghadap guru BP ia dianggap bersalah atau ada pelanggaran disiplin sekolah. Guru bimbingan dan penyuluhan bukanlah pengawas atau polisi sekolah yang dicurigai akan menangkap peserta didik yang bersalah, melainkan berperan sebagai pembentukan kepribadian peserta didik.
Menurut Prayitno dan Erman Amti (1999:239), Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah mempunyai peranan penting, bagi individu yangberada dalam lingkungan sekolah, rumah tangga, maupun masyarakat. Dalam kegiatan belajar yang dialami peserta didik ada kemungkinan peserta didik mengalami masalah, kesulitan, dan hambatan. Dengan adanya kesulitan ini tentu saja dapat menganggu proses belajar yang mereka alami. Oleh karena itu, kesulitan peserta didik harus dibantu dengan memberikan bimbingan belajar.Seperti yang dikemukakan oleh Djumhur dan Moh. Surya (1975:35) berikut ini.
Bimbingan pengajaran/belajar merupakan jenis bimbingan yang memberikan bantuan kepada individu dalam memecahkan kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan masalah belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa bimbingan belajar mempunyai peranan untuk mengubah kebiasaan belajar peserta didik agar mereka dapat memecahkan permasalahannya sendiri sehingga ia dapat belajar secara efektif dan efisien, baik secara individual maupun kelompok.
1.4 Tugas dan Tanggung Jawab Guru Bimbingan dan Penyuluhan
Tugas dan tanggung jawab guru Bimbingan dan Penyuluhan dapat dibagi menjadi dua, yaitu tugas pokok dan tugas layanan. Tugas pokok guru BP terdapat dalam Lampiran I Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 26/MENPAN/1989 tanggal 2 Mei 1989 adalah sebagai berikut:
- Menyusun program bimbingan dan penyuluhan;
- Menyajikan program bimbingan dan penyuluhan;
- Mengevaluasi pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan;
- Menganalisis hasil pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan;
- Menyusun dan melaksanakan bimbingan dan penyuluhan;
- Membimbing peserta didik dalam kegiatan ekstrakurikuler;
- Membimbing guru dalam kegiatan proses bimbingan dan penyuluhan;
- Membimbing karier peserta didik;
Kedelapan tugas pokok guru BP di atas merupakan tugas wajib yang harus dijalankan oleh guru yang bersangkutan sebagai konsekuensi atas jabatan yang diembannya. Tugas lain guru bimbingan dan penyuluhan yaitu tugas layanan. Menurut Prayitno dan Erman Amti (1999:254), ada 7 jenis layanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah, yang harus dilakukan oleh guru bimbingan dan penyuluhan adalah sebagai berikut.
- Layanan orientasi;
- Layanan informasi;
- Layanan penempatan dan penyaluran;
- Layanan bimbingan belajar;
- Layanan konseling perorangan;
- Layanan bimbingan kelompok;
- Layanan konseling kelompok;
2. Peserta Didik Bermasalah
2.1 Pengertian Peserta Didik Bermasalah
Peserta didik bermasalahan adalah peserta didik yang menunjukan gejala –gejala penyimpangan dari perilaku yang lazim dilakukan oleh teman-teman sebayanya (Dalyono, 2001:260). Penyimpangan perilaku ada yang sederhana, dan ada yang ekstrim. Contoh penyimpangan yang sederhana, misalnya mengantuk, suka menyendiri, terlambat datang, sedangkan penyimpangan yang ekstrim, misalnya sering membolos, memeras teman, atau tidak sopan kepada seseorang guru atau orang lain.
Prayitno dan Erman Amti(1999:46) juga berpendapat indikasi peserta didik bermasalahdapat ditinjau dari berbagai permasalahan yang dihadapi peserta didik yang menyimpang dari empat dimensi kemanusiaan, yaitu dimensi individualitas, sosialitas, moralitas, dan religiusitas. Penyimpangan-penyimpangan yang dilihat dari keempat dimensi itu dapat dijadikan tolak ukur dari pengertian peserta didik yang bermasalah.
Dari pendapat-pendapat di atas dapat penulis simpulkan bahwa peserta didik bermasalah adalah peserta didik yang telah melakukan penyimpangan yang ditinjau dari segi perilaku, baik yang sederhana maupun ekstrim, dan ditinjau pula dari penyimpangan dari dimensi individualitas, sosialitas, moralitas, dan religius.
2.2 Sebab-sebab Peserta Didik Bermasalah
Banyak pendapat yang mengatakan bahwa setiap ada aksi akan menimbulkan reaksi. Artinya, apa yang terjadi pada diri peserta didik saat ini merupakan reaksi atas peristiwa yang dialaminya sebelum itu. Apa yang dilakukan peserta didik bukanlah semata-mata tidak ada penyebabnya. Menurut Dalyono (2001:261), peserta didik yang bermasalah disebabkan oleh dua faktor, yaitu: 1) faktor internal, dan 2) faktor eksternal. Yang termaksuk ke dalam faktor internal, seperti kelainan fisik dan kelainan psikis, sedangkan permasalahan yang berasal dari faktor eksternal dapat berasal dari keluarga, pergaulan, salah asuh, atau pergaulan hidup yang tak menyenangkan.
3. Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah
Sebagai guru BP/BK dalam menyikapi peserta didik yang bermasalah harus diketahui dahulu latar belakang permasalahannya. Menurut Nursito (2000:93), langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk menangani peserta didik bermasalah, antara lain: pengumpulan data, analisis data, diagnosis data, konseling/terapi, evaluasi, dan tindak lanjut.
- Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah suatu kegiatan mengidentifikasi permasalah. Peran guru BP/BK harus mencoba mengelompokkan data-data yang telah terkumpul dan mencari latar belakang permasalahan itu.
- Analisis Data
Analisis data adalah suatu kegiatan untuk mencari sebab-sebab masalah yang dihadapi oleh peserta didik. - Diagnosis Data
Diagnosis dilakukan setelah dilakukan penganalisisan data. Guru BP/BK melakukan diagnosis terhadap masalah yang dihadapi peserta didik untuk dicari alternatif pemecahannya.
- Konseling/Terapi
Pada kegiatan ini guru BP/BK memberikan penyembuhan atau terapi terhadap masalah yang sedang dihadapi oleh peserta didik. Dalam hal ini guru BP/BK hanya bertugas memberikan saran jika diminta oleh klien. Keputusan terhadap jalan keluar permasalahan tetap diberikan kepada klien (peserta didik). - Evaluasi
Evaluasi dilakukan untuk melihat perkembangan yang terjadi setelah dilakukan konseling/terapi. Evaluasi dapat juga dilakukan secara priodik dan kontinu untuk melihat proses perkembangan terhadap penyembuhan masalah peserta didik.
- Tindak Lanjut
Guru BP/BK dapat memberikan rekomendasi kepada pihak pihak terkait yang berwenang jika memang permasalahan peserta didik perlu dikonsultasikan lebih lanjut. Misalnya: Guru BP/BK memberikan rekomendasi kepada peserta didik pada psikiater terhadap kasus narkoba. Tindak lanjut yang diberikan oleh Guru BP/BK sebagai suatu tindakan yang dianggap perlu dilakukan konsultasi lebih lanjut sehubungan dengan masalah yang sedang dihadapi oleh peserta didik.
Namun, pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan tidaklah semudah membalik telapak tangan. Dalam pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pelaksanaannya seperti faktor penghambat dan faktor pendukung.
Adapun faktor yang dapat menjadi penghambat dalam pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan terhadap peserta didik yang bermasalah, yaitu:
- Siswa kurang terbuka untuk mengutarakan permasalahannya kepada guru BP/BK;
- Panggilan terhadap orang tua siswa yang bermasalah sering tidak sampai;
- Orang tua kurang mengadakan komunikasi dengan guru BP/BK di sekolah;
- Kesadaran siswa untuk mengkonsultasikan permasalahannya kepada guru BP/BK rendah;
- Kurangnya data tentang siswa-siswa yang bermasalah;
- Pengalaman guru BP/BK dalam memecahkan masalah yang dihadapi siswa kurang;
Selain beberapa faktor yang dapat menjadi penghambat dalam pelaksanan bimbingan dan penyuluhan terhadap peserta didik bermasalah di atas. Ada beberapa faktor yang dapat menjadi penunjang/pendukung dalam pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan terhadap peserta didik bermasalah. Adapun faktor-faktor yang dapat menjadi faktor pendukung dalam pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan terhadap peserta didik bermasalah yaitu:
- Peralatan / instrumen dalam pelaksanaan BK;
- Ruang BK yang memadai;
- Kemampuan guru BK / adanya guru BK;
- Adanya kerja sama antara guru BK dengan guru mata pelajaran lain;
- Situasi dan kondisi sekolah yang kondusif;
B. Kerangka Berpikir
Pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan terhadap peserta didik bermasalah sangat diperlukan ketika seorang peserta didik mengalami suatu masalah yang tidak dapat diselesaikan sendirian. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan terhadap peserta didik bermasalah yaitu:
1. Faktor Penghambat
- Siswa kurang terbuka untuk mengutarakan permasalahannya kepada guru BP/BK
- Panggilan terhadap orang tua siswa yang bermasalah sering tidak sampai
- Orang tua kurang mengadakan komunikasi dengan guru BP/BK di sekolah
- Kesadaran siswa untuk mengkonsultasikan permasalahannya kepada guru BP/BK rendah
- Kurangnya data tentang siswa-siswa yang bermasalah
- Pengalaman guru BP/BK dalam memecahkan masalah yang dihadapi siswa kurang
2. Faktor Pendukung
- Peralatan / instrumen dalam pelaksanaan BK
- Ruang Bk yang memadai
- Kemampuan guru BK / adanya guru BK
- Adanya kerja sama antara guru BK dengan guru mata pelajaran lain
- Situasi dan kondisi sekolah yang kondusif
BAGAN KERANGKA BERPIKIR
Table 1
Faktor pendukung
1. Pealatan / instrumen
2. Ruang BK yang memadai
3. Kemampuan guru BK
4.
Kerjasama antara guru BK dengan guru lain5. Situasi dan kondisi sekolah yang kondusif
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Variabel Penelitian
Menurut Arikunto (1993:91), variabel adalah objek yang diteliti. Variabel dalam penelitian ini adalah pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan terhadap siswa bermasalah.
B. Definisi Operasional Variabel
Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan adalah bagaimana cara-cara guru Bimbingan dan Penyuluhan dalam menangani berbagai masalah yang berkaitan di sekolah. Menurut Prayitno dan Erman Amti (1999:196), pelaksaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah dapat terwujud dalam upaya membantu penyelesaian masalah siswa. Siswa bermasalah adalah siwsa (peserta didik) yang mempunyai permasalahan di sekolah, kemudian permasalahan itu perlu mendapatkan penanganan khusus dari guru Bimbingan dan Penyuluhan. Subvariabel yang dipergunakan untuk menangani masalah adalah sebagai berikut:
- Pengumpulan data/pemahaman terhadap masalah;
- Analisis data/masalah;
- Diagnosis;
- Konseling/terapi;
- Evaluasi;
- Tindak lanjut;
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi yang dijadikan sebagai subjek penelitian adalah siswa SMP Negeri 5 Prabumulih pada tahun pelajaran 2004/2005 yang bermasalah. Dari 406 jumlah keseluruhan peserta didik terdapat sekitar 25% siswa yang bermasalah. Jadi, jumlah populasi penelitian berjumlah 100 orang peserta didik yang berasal dari kelas I, II, dan III. Tabel populasi penelitian adalah sebagai berikut.
TABEL 1
POPULASI PESERTA DIDIK YANG BERMASALAH
No
Kelas
Jumlah
1
I
22
2
II
60
3
III
18
Jumlah
100
Sumber: Data Guru BP/BK di SMP
2. Sampel
Menurut Arikunto (1993:107), sampel dapat ditentukan berdasarkan persentase berikut ini.
…apabila subjeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semuanya, sehingga penelitiannya menjadi penelitian populasi. Selanjutnya, jika subjeknya besar dapat diambil sampel antara 10-25% atau 20-25% atau lebih.
Berdasarkan pendapat di atas, peneliti mengambil sampel keseluruhan jumlah populasi dengan jumlah 100 orang yang tersebar di kelas I, II, III. Secara rinci jumlah sampel tiap-tiap kelas dapat dilihat pada tabel berikut.
TABEL 2
SAMPEL PENELITIAN
No
Kelas
Jumlah
Keterangan
1
I
22
2
II
60
3
III
18
Jumlah
100
Sumber: Data Guru BP/BK di SMP
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Angket atau kuesioner
Angket atau kuesioner berisi sejumlah pertanyaan mengenai bagaimana peranan guru BP/BK dalam menangani siswa bermasalah, termaksuk di dalamnya untuk mencari data tentang tugas dan tanggung jawab guru BP/BK yang telah dilakukannya. Angket ini diberikan kepada seluruh sampel. Tujuannya untuk mengetahui sejauh mana peran guru BP/BK terhadap siswa bermasalah. Jumlah pertanyaan lebih kurang 18 buah. Dari sejumlah pertanyaan itu, responden tinggal membubuhkan tanda centang (ü) pada kolom jawaban yang disediakan sesuai keinginannya.
2. Dokumentasi
Dokumentasi yang diperlukan dalam penelitian ini adalah berupa catatan- catatan kasus atau catatan siswa bermasalah oleh guru BP/BK. Tujuannya untuk mencari data bentuk-bentuk permasalahan siswa-siswa SMP Negeri 5 Prabumulih. Kemudian akan dikelompokan ke dalam empat dimensi permasalahan yang dilanggarannya.
3. Wawancara atau interview
Wawancara dilakukan kepada guru BP/BK di sekolah. Tujuannya untuk memperoleh informasi tentang tugas-tugas yang dilakukan oleh guru Bimbingan dan Penyuluhan terhadap siswa bermasalah di SMP Negeri 5 Prabumulih, kendala-kendala yang dihadapi, dan bagaimana cara mengatasi kendala itu, di dalam melakukan penanganan terhadap siswa bermasalah.
Jenis interview yang dipakai dalah interview bebas terpimpin. Peneliti membawa sejumlah daftar pertanyaan yang berpedoman pada pokok permasalahan dalam penelitian.
E. Teknik Analisis Data
Adapun teknik analisis yang dipakai dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif kualitatif dengan cara membuat data dalam bentuk tabel-tabel dan kemudian mendeskripsikan data-data tersebut.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data
Langkah awal yang penulis lakukan adalah mengidentifikasikan sampel yang dinyatakan bermasalah. Indikator sampel yang bermasalah yaitu dilihat dari banyaknya jumlah sampel yang melanggar peraturan atau disiplin sekolah yang dikelompokan dalam tiga kelompok:
- Pelanggaran Ringan
Kriterianya: Tidak membuat tugas/PR sebanyak satu kali, alfa sekurang-kurangnya 2 kali, tidak piket kelas, tidak memakai seragam/atribut lengkap, tidak ikut upacara.
- Pelanggaran Sedang
Kriterianya: Selalu ribut di kelas. 3 kali alfa, malas, 2 kali minggat, sering tidur di kelas, suka mengganggu ketertiban kelas, corat-coret meja/ dinding sekolah.
- Pelanggaran Berat
Kriterianya: Berkelahi, merokok, minggat lebih dari 3 kali, membawa senjata tajam, melakukan perbuatan asusila, mencuri dan melawan/menentang guru.
Pengelompokan jenis pelanggaran tersebut berdasarkan surat keputusan sekolah Nomor: 037/SMUN/X/2000.
B. Hasil dan Pembahasan
Dalam pengambilan data, penulis menyebarkan angket kepada beberapa orang peserta didik yang bermasalah yaitu sebanyak 10 orang siswa. Hasil penyebaran angket digunakan untuk mengetahui pelaksanaan BK/BP terhadap peserta didik di SMP Negeri 5 Prabumulih. Deskripsi data secara lengkap dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.
Tabel 1. Guru BP/BK Memanggil Siswa yang Bermasalah.
NO
Banyak Panggilan
Jumlah Siswa
F
%
1.
2.
3.
1 Kali Panggilan
2 Kali Panggilan
3 Kali Panggilan
4
3
3
40%
30%
30%
Total
10
100%
(Sumber: Data Angket Tahun 2005)
Dari data diatas dapat diketahui bahwa frekuensi panggilan siswa paling banyak yaitu sebanyak satu kali panggilan dengan jumlah siswa yang dipanggil sebanyak 4 orang (40%). Sedangkan untuk panggilan paling sedikit yaitu sebanyak 2 dan 3 kali panggilan dengan jumlah siswa yang dipanggil masing-masing sebanyak 3 orang (30%).
Tabel 2. Permasalahan yang Membuat Siswa dipanggil oleh Guru BP/BK
NO
Masalah
Jumlah Siswa
F
%
1.
2.
3.
4.
Terlambat
Berkelahi
Membolos
Ribut di Kelas
0
1
3
6
0
10%
30%
60%
Total
10
100%
(Sumber: Data Angket Tahun 2005)
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa masalah yang paling banyak dilakukan oleh para siswa yaitu ribut di kelas dengan jumlah siswa sebanyak 6 siswa (60%) dan masalah yang paling sedikit dilakukan oleh siswa yaitu terlambat masuk sekolah dengan jumlah tidak ada siswa yang melanggar.
Tabel 3. Pengklasifikasian Masalah
NO
Penggolongan Masalah
Jumlah Siswa
F
%
1.
2.
3.
Ringan
Sedang
Berat
3
6
1
30%
60%
10%
Total
10
100%
(Sumber: Data Angket Tahun 2005)
Dari data diatas dapat diketahui bahwa jenis pelanggaran yang paling banyak dilakukan oleh siswa SMP Negeri 5 yaitu termasuk jenis pelnggaran sedang dengan frekuensi siswa sebanyak 6 orang (60%) dan yang paling sedikit yaitu tingkat pelanggaran berat dengan frekuensi pelanggar sebanyak 1 orang siswa (10%).
Tabel 4. Guru BK/BP Menanyai Latar Belakang dari Masalah
NO
Ditanyai Latar Belakang
Jumlah Siswa
F
%
1.
2.
Ya
Tidak
7
3
70%
30%
Total
10
100%
(Sumber: Data Angket Tahun 2005)
Dari data diatas dapat diketahui bahwa guru BK/BP menanyai latar belakang masalah kepada siswa sebanyak 7 oarang siswa (70%) dan yang tidak ditanyai latar belakang sebanyak 3 orang siswea (30%). Hal ini disebabkan oleh masalah siswa tersebut yang tidak terlalu berat.
Tabel 5. Hal yang Dilakukan Oleh Guru BK/BP
NO
Hal yang Dilakukan Oleh Guru BK/BP
Jumlah Siswa
F
%
1.
2.
3.
Menasehati
Membiarkan
Menghukum
4
1
5
40%
10%
50%
Total
10
100%
(Sumber: Data Angket Tahun 2005)
Data diatas menunjukkan bahwa menghukum siswa adalah cara yang paling banyak dilakukan oleh guru BK/BP dengan jumlah siswa yang dihukum sebanyak 5 orang siswa (50%). Sedangkan untuk tindakan yang paling sedikit diambil oleh guru BK/BP setelah mengetahui masalah siswa yaitu membiarkannya saja dengan banyak siswa sebanyak 1 orang siswa (10%).
Tabel 6. Jumlah Bantuan yang Diberikan oleh Guru BK/BP Terhadap Siswa yang Bermasalah
NO
Jumlah Bantuan
Jumlah Siswa
F
%
1.
2.
3.
4.
Tidak Pernah
1 kali
2 Kali
3 Kali
1
6
3
0
10%
60%
30%
0%
Total
10
100%
(Sumber: Data Angket Tahun 2005)
Dari data diatas dapat diketahui bahwa banyak bantuan yang diberikan oleh guru kepada siswa yang sedang bermasalah yaitu sebanyak 1 kali bantuan dengan jumlah siswa yaitu 6 orang siswa (60%) dan bantuan paling sedikit yaitu sebanyak 3 kali bantuan.
Tabel 7. Panggilan Orang Tua yang Dilakukan oleh Guru BK/BP
NO
Jumlah Panggilan
Jumlah Siswa
F
%
1.
2.
3.
4.
Tidak Pernah
1 Kali Panggilan
2 Kali Panggilan
3 kali Panggilan
4
2
3
1
40%
20%
30%
10%
Total
10
100%
(Sumber: Data Angket Tahun 2005)
Data diatas menunjukan bahwa frekuensi yang paling banyak dilakukan oleh guru BK/BP terhadap orang tua siswa yang bermasalah yaitu tidak pernah dipanggil/ 0 panggilan dengan jumlah siswa sebanyak 4 orang siswa (40%) dan panggilan paling sedikit sebanyak 3 kali panggilan dengan jumlah siswa sebanyak 1 orang (10%).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada beberapa Bab terdahulu maka penulis dapat menyimpulkan beberapa hal, yaitu sebagai berikut.
- Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan terhadap siswa bermasalah di SMP Negeri 5 Kota Prabumulih dapat dikatakan berjalan dengan baik.
- Dalam pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan masih terdapat banyak hambatan dalam pelaksanaannya, seperti.
- Siswa kurang terbuka untuk mengutarakan permasalahannya kepada guru BP/BK;
- Panggilan terhadap orang tua siswa yang bermasalah sering tidak sampai;
- Orang tua kurang mengadakan komunikasi dengan guru BP/BK di sekolah;
- Kesadaran siswa untuk mengkonsultasikan permasalahannya kepada guru BP/BK rendah;
- Kurangnya data tentang siswa-siswa yang bermasalah;
- Pengalaman guru BP/BK dalam memecahkan masalah yang dihadapi siswa kurang;
- Selain ada faktor penghambat, dalam pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan juga terdapat faktor pendukung seperti..
- Peralatan / instrumen dalam pelaksanaan BK;
- Ruang BK yang memadai;
- Kemampuan guru BK / adanya guru BK;
- Adanya kerja sama antara guru BK dengan guru mata pelajaran lain;
- Situasi dan kondisi sekolah yang kondusif;
B. Saran
- Hendaknya Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di SMP Negeri 5 diaktifkan demi tercapainya tujuan pendidikan.
- Dalam melaksanakan tugas-tugasnya, guru BK/BP sebaiknya bekerja sama dengan guru mata pelajaran, wali kelas, wakil kepala sekolah bagian kesiswaaan dan petugas tata usaha.
- Sebaiknya Kepala Sekolah memberikan pengarahan khusus tentang tugas-tugas guru, khususnya guru BK/BP , kemudian bila perlu mengirimkan guru BK/BP untuk mengikuti penataran atau pelatihan.
- Bila perlu orang tua atau guru yang bersangkutan diajak bertukar pikiran dan diminta turut membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh peserta didik.
INSTRUMEN PENELITIAN
EVALUASI PELAKSANAAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN
TERHADAP PESERTA DIDIK BERMASALAH
DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 5 PRABUMULIH
Petunjuk:
- Isilah Identitas Anda terlebih dahulu sebelum Anda menjawab pertanyaan!
- Pilihlah salah satu jawaban yang paling berkenan menurut pendapat Anda!
- Silangilah salah satu jawaban yang menurut kamu tepat!
- Jawablah dengan jujur sesuai dengan kondisi Anda!
- Jawaban Anda akan dirahasiakan dan tidak untuk dipublikasikan!
A. Identitas Responden
Nama Responden : …………………..
TTL Responden : …………………..
Alamat Responden : …………………..
Kelas : …………………..
NIS : …………………..
B. Pertanyaan:
1. Berapa kali Guru BP/BK sering memanggil Anda?
A. 1 kali C. 3 kali
B. 2 kali D. Lainnya …….
2. Permasalahan apakah yang membuat Anda dipanggil oleh Guru BP/BK?
A. Sering terlambat C. Membolos E. Lainnya …….
` B. Berkelahi D. Ribut di kelas
3. Apakah Guru BP/BK memberikan penjelasan tentang permasalahan yang kamu hadapi tersebut?
A. Ya B. Tidak
4. Apakah Guru BP/BK mengklasifikasikan jenis pelanggaran yang telah kamu perbuat?
A. Ya B. Tidak
5. Termasuk tingkat pelanggaran apakah permasalah kamu tersebut?
A. Ringan B. Berat
6. Ketika kamu dipanggil, apakah Guru BP/BK menyuruh kamu untuk menceritakan latar belakang masalah yang kamu hadapi?
A. Ya B. Tidak
7. Apakah Anda menceritakan penyebab dari masalah yang kamu hadapi?
A. Ya B. Tidak
8. Apakah Guru BP/BK sering mengutarakan akibat dari masalah yang kamu hadapi?
A. Sangat sering C. Tidak pernah
B. Sering
9. Hal apakah yang dilakukan Guru BP/BK setelah mengetahui permasalahan yang telah kamu perbuat?
A. Menasehati C. Menghukum
B. Membiarkan saja D. Lainnya ……
10. Apakah Guru BP/BK memberikan alternatif pemecahan masalah kamu tersebut?
A. Ya B. Tidak
11. Berapa kali Guru BP/BK sering membantu Anda dalam menyelesaikan masalah yang sedang Anda hadapi?
A. 1 kali C. 3 kali
B. 2 kali D. Lainnya …..
12. Apakah tanggapan Anda terhadap alternatif pemecahan masalah yang diajukan oleh Guru BP/BK?
A. Menerimanya C. Menolaknya
B. Biasa saja
13. Apakah Guru BP/BK selalu memberi nasihat kepada kamu agar kamu tidak berbuat hal yang sama?
A. Ya B. Tidak
14. Ketika Anda membuat masalah dan diketahui oleh Guru BP/BK, apakah Guru BP/BK memanggil Orang Tua Anda?
A. Ya B. Tidak
15. Berapa kali Orang Tua Anda sering dipanggil oleh Guru BP/BK menyangkut masalah kamu?
A. 1 kali C. 3 kali
B. 2 kali D. Lainnya …..
16. Apakah Orang Tua Anda datang ke sekolah ketika dipanggil oleh Guru BP/BK?
A. Ya B. Tidak
17. Apa yang dilakukan oleh Orang Tua Anda terhadap Anda setelah mereka mengetahui masalah yang telah Anda lakukan?
A. Menasehati Anda C. Marah-marah
B. Biasa-biasa saja
18. Apakah Guru BP/BK Anda masih sering berkomunikasi dengan Anda meskipun Anda tidak mempunyai masalah lagi?
A. Ya B. Tidak
*****
INSTRUMEN PENELITIAN
EVALUASI PELAKSANAAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN
TERHADAP PESERTA DIDIK BERMASALAH
DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 5 PRABUMULIH
Petunjuk:
- Isilah Identitas Anda terlebih dahulu sebelum Anda menjawab pertanyaan!
- Pilihlah salah satu jawaban yang paling berkenan menurut pendapat Anda!
- Silangilah salah satu jawaban yang menurut kamu tepat!
- Jawablah dengan jujur sesuai dengan kondisi Anda!
- Jawaban Anda akan dirahasiakan dan tidak untuk dipublikasikan!
- Jawaban Anda akan dirahasiakan dan tidak untuk dipublikasikan!
A. Identitas Responden
Nama Responden : …………………………
TTL Responden : …………………………
Alamat Responden : …………………………
Agama : …………………………..
Guru Mata Pelajaran : …………………………
B. Pertanyaan
1. Masalah apa sajakah yang terjadi/dialami siswa yang ditangani oleh BK? (Boleh pilih lebih dari satu)
A. Perkelahian C. Membolos
B. Merokok D. Lainnya …….
2. Berapakah jumlah siswa yang bermasalah yang ditangani oleh BK dalam satu bulan ini?
A. 10 siswa C. 20 siswa
B. 15 siswa D. Lainnya ……
3. Berapakah jumlah siswa yang mengalami masalah:
No
Masalah
Jumlah siswa
%
1.
Merokok
2.
Berkelahi
3.
Ribut di kelas
4.
Membolos
5.
Lainnya ……..
Jumlah
4. Apakah penyebab terjadinya siswa mengalami permasalahan?
No
Penyebab
Jumlah siswa
%
1.
Keluarga (Broken Home)
2.
Pergaulan di sekolah
3.
Lingkungan tempat tinggal
4.
5.
Jumlah
5. Bagaimana cara Guru BP/BK mengatasi masalah-masalah tersebut?
A. Memanggil Orang Tua
B. Menghukum siswa
C. Mengskors siswa
D. Lainnya ………
6. Persentase cara mengatasi siswa yang bermasalah:
No
Cara Mengatasi
Jumlah siswa
%
1.
Memanggil Orang Tua
2.
Menghukum siswa
3.
Diskors
4.
5.
Jumlah
7. Bagaimana keadaan Guru Wali kelas dan Guru Mata Pelajaran terhadap siswa bermasalah?
A. Sangat memperhatikan
B. Kurang memperhatikan
C. Didiamkan saja
D. Lainnya ………
*****
INSTRUMEN PENELITIAN
EVALUASI PELAKSANAAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN
TERHADAP PESERTA DIDIK BERMASALAH
DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 5 PRABUMULIH
A. Identitas Responden
Nama Responden : …………………………
TTL Responden : …………………………
Alamat Responden : …………………………
Agama : …………………………..
Guru Mata Pelajaran : …………………………
B. Pertanyaan
1. Berapa kira-kira jumlah permasalahan yang ditangani dalam satu bulan?
2. Permasalahan apa yang sering dihadapi/dilakukan oleh peserta didik?
3. Tindakan apa yang dilakukan untuk menangani masalah tersebut?
4. Apa kendala-kendala yang dihadapi dalam menangani masalah tersebut?
5. Bagaimana cara mengatasi kendala-kendala tersebut?
*****
- Populasi…………………………………………………………...15

0 komentar:
Posting Komentar